Indonesia Picu Ledakan Mobile Asia

Indonesia Picu Ledakan Mobile AsiaFoto: detikINET/Anggoro Suryo Jati
Shanghai – Kian meluasnya penetrasi perangkat ponsel di Asia Pasifik, membuat jumlah pelanggan mobile melonjak. Hingga akhir tahun lalu jumlahnya menembus angka 2,5 miliar.

Hal tersebut tertuang dari laporan GSM Association (GSMA) yang dirilis dalam ajang Mobile World Congress (MWC) Shanghai 2016 yang dihadiri detikINET.

Laporan bertajuk The Mobile Economy: Asia Pacific 2016 tersebut mengungkap 62% populasi di Asia Pasifik telah berlangganan layanan mobile sejak tahun 2015. Angka ini diprediksi akan meningkat pada 2020.

GSMA memperkirakan tiga perempat populasi di Asia Pasifik akan belangganan layanan mobile. Peningkatannya sebanyak 600 juta. Alhasil, jumlah keseluruhan menjadi 3,1 miliar pelanggan pada 2020.

Prediksi ini berdasarkan kalkulasi pada teknologi dan layanan mobile yang berkontribusi pada 5,4% GDP Asia Pasifik, setara dengan USD 1,3 triliun pada nilai ekonomi. Kontribusi ini akan meningkat menjadi USD 1,7 triliun pada 2020.

“Lebih dari setengah pelanggan mobile di dunia berbasis di Asia Pasifik. Kawasan ini menjadi mesin utama pertumbuhan global untuk sisa dekade ini,” kata Mats Granryd, General Director GSMA dalam keterangan resmi yang diterima detikINET, Kamis (30/6/2016).

“Meningkatnya penetrasi pelanggan, di samping mempercepat migrasi ke jaringan yang lebih cepat dan layanan yang lebih maju, terus memacu inovasi dan digitalisasi di negara maju dan berkembang. Ponsel mambantu Asia membangun masyarakat digital yang memungkinkan warganya untuk mengakses layanan kapan dan di mana saja. Dan masyarakat digital akan menjadi pengerak utama sosial dan ekonomi,” lanjur Granryd.

Suasana Mobile World Congress Shanghai 2016.

Peran Indonesia

Meningkatnya pertumbuhan pelanggan mobile di Asia Pasifik tidak terlepas dari peran Indonesia. Menurut GSMA, Indonesia masuk dalam empat pasar terbesar di kawasan ini bersama China, India dan Jepang.

Indonesia juga diprediksi akan menyumbang banyak pelanggan baru pada 2020. Selain itu ada nama Bangladesh, Myanmar dan Pakistan yang juga memiliki kontibusi besar pada pertumbuhan pelanggan.

GSMA turut mencatat mobile broadband (3G/4G) menyumbang 45% dari koneksi seluler di Asia Pasifik selama tahun lalu. Diperkirakan angka tersebut akan meningkat 70% dari tahun 2020, sebab banyak operatir terus berinvestasi di jaringan 4G.

Hingga akhir 2015, kawasan ini telah memiliki 76 jaringan 4G LTE dan 20 jaringan VoLTE. Saat ini Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand tengah meningkatkan adopsi 4G. Sementara negara pelopor 4G, seperti Korea Selatan, Jepang dan China, tengah mendorong pengembang teknologi 5G.

GSMA turut mencatat koneksi smartphone di Asia Pasifik mencapai 1,7 miliar pada akhir 2015. Diperkirakan pada 2020, jumlah koneksi dari smartphone akan mencapai 3 miliar. China, India dan Indonesia menjadi pemain utama dalam pertumbuhan tersebut. (afr/ash)

Leave a Reply