Mengintip Smartphone Advan Dibanting dan ‘Dibakar’

Melihat Smartphone Advan Dibanting dan DibakarFoto: Angling Adhitya Purbaya/detikINET
Semarang – Advan, salah satu produsen smartphone dan tablet lokal, memiliki pabrik di Semarang, Jawa Tengah. Pabrik yang awalnya sebagai tempat perakitan PC dan laptop tersebut, kini sudah memiliki kapasitas produksi hingga 32 ribu unit per hari.

Pabrik Advan atau PT Arga Mas Lestari berada di kawasan industri Candi Kota Semarang dan berada di lahan seluas 15.000 m2. Ada tiga ruang utama yaitu satu ruang spare part dan dua ruang utama produksi.

“Pabrik adalah wujud kemapanan insdustri Advan. Selain itu pabrik menjadi media untuk mempermudah Advan dalam menghadirkan jajaran produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Direktur Marketing Advan, Tjandra Lianto di pabrik Advan, Selasa (26/4/2016).

Mengajak sejumlah media, Miss Indonesia 2016 Natasha Manuel, Miss Social Inspiration 2016 Tasya Amalia Yaumi dan Miss Jateng 2016, Sabira Maharani, Advan memamerkan bagaimana perangkatnya dites ketahanan.

Semua ruangan dikunjungi mulai dari perakitan, pengetesan, hingga pengemasan. Perakitan dan pengujian dilakukan manual dan sangat teliti. Pekerja duduk saling berhadapan di meja dan di bagian tengah meja ada trek otomatis untuk meletakkan bagian yang rampung dikerjakan dan berjalan ke tahap berikutnya.

Bagian paling menarik perhatian adalah pada tahap quality control. Di sini, sample smartphone melewati pengujian dengan dibanting, dipanasi, dan dimasukkan Burning Room.

Pada tahap uji ketahanan, seorang pekerja pabrik memasukkan sampel smartphone di mesin bernama drop test. Unit perangkat diangkat mesin yang mencengkram lalu dijatuhkan dari ketinggian tertentu sebanyak 100 kali.

Di sebelahnya, ada mesin menyerupai oven yang fungsinya untuk ketahanan panas dan kelembapan. Di mesin tersebut temperatur diatur menjadi panas ekstrim, dingin, atau lembab selama 1 sampai 2 jam.

Ada juga bagian yang dinamakan Burning Room. Namanya memang terdengar ekstrim, namun Burning Room di sini bukan berarti smartphone benar-benar dibakar. Di bagian ini, smartphone dinyalakan terus menerus selama 24 jam.

Jika tidak mengalami masalah, berarti smartphone tersebut layak dijual. Jika ada kerusakan, harus kembali ke perakitan. “Harus melewati quality control agar kualitasnya 100%,” kata Tjandra.

Dijelaskannya, saat ini memang masih banyak komponen yang impor dari negara lain. Meski demikian, setidaknya pabrik Advan sudah 20% menggunakan komponen lokal. Ke depan, Advan berjanji memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) agar menjadi 40%.

“Komponen masih 20%. Langkah dari sisi hardware dan software. Kendalanya di faktor industri penunjang,” sebutnya.

Advan saat ini masih fokus penerapan sistem alih teknologi yang secara efektif meracik berbagai komponen produk sehingga sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.

“Transformasi industri Advan mencakup 3 aspek utama yaitu penerapan alih teknologi yang terstruktur, rekrutmen tenaga kerja, serta proses uji produk yang secara teknologi terus ditingkatkan,” terang Tjandra.

Di pabrik Advan, ada 900 pekerja yang 98% orang Indonesia dan sisanya masih dari negara lain untuk ahli teknologi. Perbandingan pekerja wanita dan prianya yaitu berkisar 7:3.

“Untuk penjualan sekitar 50 ribu unit per bulan,” katanya.

Advan pernah menjadi nomor satu di Indonesia bahkan Asia Pasifik untuk penjualan pada segmen tablet. Saat ini, Advan juga menduduki peringkat ke-5 terbesar produsen smartphone dan tablet di Indonesia.

“Sisi teknologi sudah sejajar dan juga kualitas dengan lainnya,” tegas Tjandra.

Dengan adanya pabrik Advan di Semarang, lanjut Tjandra, hal itu merupakan upaya mengembangkan teknologi tanpa mengesampingkan kemajuan ekonomi nasional.

“Melalui penanaman modal pada industri, Advan mewujudkan komitmen mendukung kemajuan teknologi komunikasi Indonesia secara jangka panjang,” tutupnya. (alg/rns)

Leave a Reply